Minggu , 1 November 2020
Home / Opini Masa / MENGGALI POTENSI EKSPOR KOPI BENGKULU

MENGGALI POTENSI EKSPOR KOPI BENGKULU

 

Oleh : Aura Fallona Maharani

Coffea sp (tanaman kopi) merupakan salah satu komoditi ekspor andalan Indonesia yang memiliki andil penting sebagai penghasil devisa negara ketiga terbesar setelah kayu dan karet pada sub sektor pertanian di Indonesia. Kopi adalah salah satu sajian minuman paling terkenal di dunia, dibuktikan dengan konsumsi kopi berhasil melonjak hingga 174 persen pada tahun 2016 ( data International Coffe Organization/ICO).

Dibuktikan pula dengan menjamurnya kedai-kedai kopi di kota-kota Indonesia bahkan dunia. Melihat peluang yang ada maka saat inilah Bengkulu dapat mengambil andil yang besar dalam terjadinya peningkatan konsumsi kopi dunia. Di era perdagangan bebas seperti ini ekspor dan impor akan sangat bisa bermanfaat apabila dijadikan sebagai peluang bisnis oleh petani-petani kopi di Provinsi Bengkulu. Kopi Bengkulu ditanami pada daerah dataran tinggi, yang berkabut dan memiliki udara sejuk. Salah satunya bernama Desa Bandung Jaya. Desa ini terletak di ketinggian 1.400 meter di atas permukaan laut. Bahkan setiap keluarga di desa ini setidaknya memiliki dua hektar lahan kopi untuk mereka olah.

Bengkulu juga menghasilkan banyak produksi kopi antara lain petik merah robusta,arabika super,dan arabika luak yang biasanya petani tersebut juga memelihara luak di kandangnya. Bahkan ada kampung kopi yang dijadikan tempat wisata edukasi apabila masyarakat awam ingin melihat bagaimana produksi kopi terbaik provinsi Bengkulu dihasilkan. Bengkulu yang dikenal sebagai segi tiga emas penghasil robusta terbesar di pulau sumatera, dapat memanfaatkan hal tersebut untuk melebarkan sayapnya hingga ke negeri seberang. Tidak menutup kemungkinan bahwa Bengkulu dapat melakukan ekspor dalam jangka waktu yang dekat ini. Dengan berbagai macam hal yang diusahakan oleh pemerintah serta menggaet pihak swasta yang diharapkan dapat menghasilkan branding baik dan berupaya meningkatkan produktivitas untuk kopi Bengkulu.

Namun ternyata masih terdapat beberapa persoalan dalam produksi kopi di Bengkulu, yaitu belum tersebarnya pemahaman petani terhadap budidaya kopi sesuai standar,fasilitas produksi yang belum memadai, kebiasaan masyarakat yang melakukan petik kopi secara rajutan (memanen biji kopi bewarna merah,kuning,kekuning-kuningan), kebiasaan masyarakat menjual kopi dalam bentuk biji cherry (Biji kopi segar sehabis dipetik dan belum diolah sama sekali) , dan masyarakat belum memiliki networking atau jaringan untuk menjual hasil kopinya ke luar Bengkulu.

Hal tersebut menjadi catatan untuk pemerintah yuntuk dapat mengambil peran dalam pengedukasian petani di wilayah-wilayah pengasil kopi di Provinsi Bengkulu. Kunci untuk berhasil dalam melakukan kegiatan ekspor adalah membuat produk yang berkualitas, maka dari itu pemerintah dan pihak swasta memiliki peran penting dalam menaikkan kualitas kopi Bengkulu.

Dilansir dari data Dinas Perkebunan Provinsi Bengkulu mencatat, perkebunan kopi Robusta Bengkulu luasnya mencapai 95.313 Ha, antara lain berlokasi di Bengkulu Utara seluas 12.213 hektare, Kabupaten Muko-Muko 147 hektare, Rejang Lebong 21.059 hektare, Kepahiang 24.017 hektare. Kemudian di Kabupaten Lebong seluas 7.624 hektare, Bengkulu Selatan 3.082 hektare, Seluma 16.760 hektare, Kaur 7.985 hektare dan Kota Bengkulu seluas 21 hektare. Bengkulu merupakan tempat bagi 66.999 petani kopi di 10 kabupaten/kota, dan 64.632 petani penanam kopi robusta.

Hasil produksinya mencapai 55.168,9 ton (pertahun 2016). Sementara untuk kopi arabika, jumlah petaninya sekitar 2.367 petani, dengan hasil produksi 1.506 ton.Hal ini sangat berpotensi memajukan komoditas ekspor Bengkulu. Keberadaan kopi Bengkulu akan sangat terasa apabila mengunjungi wilayah-wilayah dengan peghasil kopi terbesar di Bengkulu yaitu kepahiang, keberadaan kopi akan sangat mudah ditemui di sepanjang jalan ataupun berada dekat dengan pemukiman warga.

Berdasarkan data diatas jelas sudah menunjukkan bahwa ada banyak masyarakat Bengkulu yang menggantungkan hidupnya pada tanaman kopi. Pengelolaan kebun kopi di Provinsi Bengkulu tentu tidak lepas dari adanya UMKM dan IKM yang ada di Bengkulu.

Diketahui pula bahwa UMKM adalah penggerak perekonomian yang ada di Indonesia. maka dari itu UMKM dan IKM yang ada diharapkan dapat berkualitas agar dapat menghasilkan kopi yang bermutu dan bisa diekspor ke luar negeri.

Seperti produksi yang dilakukan oleh jawa timur selaku daerah yang juga terkenal dengan kualitas kopinya dan bahkan sudah mengeskpor kopinya menyebutkan bahwa masih banyaknya slot ekspor yang bisa dimaksimalkan oleh Indonesia. namun sangat disayangkan produktivitas kopi yang ditanam petani sangat rendah. Beda dengan Vietnam selaku pesaing ekspor kopi Indonesia, kopi yang dibudidaya Vietnam produktivitasnya bisa mencapai 2-3 ton per ha. Yang dibandingkan di Indonesia, produktivitasnya masih di bawah 1 ton/ha.

Hal ini lah yang menjadi peluang besar untuk petani kopi Bengkulu untuk menaikkan produktivitas produksi kopi untuk dapat bersaing di luar negeri.

Penulis adalah Mahasiswa Administrasi Keuangan dan Perbankan, Universitas Indonesia

About Budiman

Baca Juga

Merawat Cinta di tengah Bencana

Oleh : Nugroho Tri Putra, M.I.Kom* Makin hari, dampak wabah covid-19 semakin terasa. Khususnya di …