Rabu , 14 November 2018
Home / Bengkulu / Kisah Serda Gunharlian, TNI Yang Tak Malu Bertani
Serda Kunharlian tengah menyabit padi di sawah garapannya. (Foto: Ernel)

Kisah Serda Gunharlian, TNI Yang Tak Malu Bertani

PERANG. Itulah yang terlintas saat ditanya apa tugas tentara. Namun, yang dilakukan oleh Serda Gunharlian sedikit berbeda. Bintara Pembina Desa (Babinsa) aktif ini meluangkan waktu kosongnya untuk menggarap sawah demi turut menyukseskan Swaswembada pangan.

Bagaimana kiprahnya? Berikut laporannya.

Tedi Cahyono, MC Kota Bengkulu

Ada pemandangan yang berbeda saat berkunjung ke areal persawahan milik Dinas Pertanian Kota Bengkulu yang ada di Kelurahan Semarang Kota Bengkulu. Di lahan seluas tujuh hektar itu, tampak seorang Tentara Nasional Indonesia (TNI) mengenakan seragam lengkap sedang menyabit padi.

“Saya memang menggarap sawah ini,” ucap tentara tersebut, saat ditemui di sawah garapannya, Rabu (28/3/2018).

Tiga tahun sudah, TNI yang bernama Serda Gunharlian itu menggarap sawah yang ada di sana. Bak seorang petani ulung, ia kelola sawahnya sendiri. Mulai dari menanam padi, membajak, hingga memanen oryza sativa yang sudah merunduk.

“TNI juga punya program upaya khusus swasembada pangan. Jadi memang ada instruksi dari komandan agar kami membantu para petani dalam mewujudkan ketahanan pangan,” ungkapnya.

Disampaikan Serda Gunharlian, tujuan utama menggarap sawah ini bukanlah untuk mencari nafkah. Tapi dengan tanpa malu terjun langsung ke lumpur, ia mengaku bisa merasakan langsung ‘nikmatnya’ bermasyarakat.

“Sebagai Babinsa, kami memang diwajibkan untuk mengenal masyarakat, mengetahui keadaan masyarakat secara langsung,” tutur Serda Gunharlian.

Gunharlian mengaku latar belakang keluarganya merupakan petani. Karena itu, militer kelahiran Seginim Bengkulu Selatan ini sangat semangat saat ditawari kerjasama oleh Dinas Pertanian.

“Sejak kecil saya memang hidup di desa yang mayoritas hidup dengan cara bertani. Mungkin inilah yang membuat saya senang untuk bersawah,” ungkap Gunharlian, yang lahir pada 8 Juli 1971 itu.

Ayah tiga anak ini mengaku, total lahan yang digarapnya adalah satu hektar. Dari lahan pinjam pakai tersebut hasil gabah yang dihasilkan mencapai 8-9 ton per sekali panen.

“Setahun itu dua kali panen. Nah hasil dari panen ini kita bagi tiga dengan Dinas Pertanian,” ucapnya.

 

Pengalaman Tugas Gunharlian

Pun demikian, Gunharlian bukan tak pernah berperang. Pria berdarah Padang Guci ini juga sering diturunkan untuk mengamankan konflik yang acap terjadi di Indonesia.

Diceritakan Gunharlian, dia menjadi TNI sejak 1992. Awalnya, ia ditugaskan di Kompi Lubuk Linggau Sumatera Selatan. Tiga tahun berselang, ia dikirim ke Timor Timur sebagai prajurit untuk terlibat menstabilkan daerah tersebut.

Di negara yang sempat menjadi bagian dari NKRI itu, ia bertugas selama dua tahun. Pada 1996, ia kembali ke Lubuk Linggau.

Namun, setahun kemudian ia dipindahtugaskan ke Kota Bengkulu. Tak sampai hitungan 12 purnama, ia kembali dikirim ke Timor Timur. Barulah pada masa reformasi, ia kembali lagi ke Kota Bengkulu.

Tak sampai disana, pada 1999, ia dikirim ke Ambon. Bertugas mengamankan konflik di sana selama satu tahun. Pada tahun 2000, ia dikembalikan ke Batalyon.

Petualangannya tak berhenti di sana. Pada 2002, ia dikirim ke Aceh. Di Provinsi Serambi Mekah itu, ia hanya bertugas selama satu tahun. Pada 2003, ia kembali ke Kota Bengkulu.

Pada 2004, terjadi tsunami di Aceh. Lantaran sempat bertugas di sana, ia akhirnya dikirim lagi ke Aceh untuk membantu stabilisasi pasca bencana.

“Saya pulang lagi ke Kota Bengkulu tahun 2005. Tahun 2006 saya ditugaskan di Korem 041/Gamas. Lalu itu ditugaskan di Kodim 0407/BKL pada 2006 hingga 2007,” kenangnya.

Setelah di Kodim 0407, ia digeser ke Komando Rayon Militer (Koramil) yang ada di Kabupaten Bengkulu Tengah. Barulah pada tahun 2008, ia aktif menjadi Babinsa.

Dengan menjadi Babinsa ini, ia mengaku banyak waktu yang bisa diluangkannya untuk berbaur dengan masyarakat. Sebagai seorang TNI, Gun yang tinggal di Jalan Amalia Kelurahan Dusun Besar ini memang ditugaskan untuk memberi tauladan kepada masyarakat.

“Dengan bertani ini, saya ingin menjadi contoh buat masyarakat. Harapannya saya bila ada lahan tidur, masyarakat bisa menggarapnya,” ungkap Gun.

Kini, usianya sudah 47 tahun. Satu dari tiga anaknya ada juga yang memilih hidup sebagai seorang TNI.

“Anak saya yang pertama masih kuliah, yang ketiga masih SD. Nah, yang kedua saat ini yang menjadi TNI dan sedang tugas di Aceh,” pungkasnya.

Menjadi Motivasi

Iin (50 tahun), seorang petani yang juga menggarap sawah di sana mengatakan aksi garap sawah yang dilakukan Kunharlian cukup memberikan motivasi bagi para petani yang ada di sana.

“Kami termotivasi dengan Pak Gunharlian ini. Walaupun dia TNI, tapi tidak malu untuk bertani,” ucapnya.

Diceritakaan Iin, Gunharlian ini memang ulet dalam bercocok tanam. Bahkan, terkadang lebih rajin dari dia yang berprofesi sebagai petani.

“Pak Gunharlian ini setiap pekan selalu ke sawah. Sembari melihat tanamannya, ia juga sering bercengkrama dengan warga yang ada di sini,” ungkap Ibung, panggilan akrabnya.

Tak jarang pula, kata Iin, para petani yang ada di sana dibantu oleh Gunharlian. Misalnya, para petani dibantu saat merontokkan bulir padi dari batangnya.

“Intinya Pak Gunharlian ini sudah seperti petani saja. Mungkin karena selalu berbaur dengan kami,” tutupnya sembari tersenyum. (**)

 

Pewarta : Tedi Cahyono
Editor : Nugroho Tri Putra

Fotografer : Ernel Qorazon

About Tedi CHO

Check Also

Dishub Dan Polres Tinjau Titik Parkir dan Rekayasa Lalin Doa 10 Juta Umat

Dishub Dan Polres Tinjau Titik Parkir dan Rekayasa Lalin Doa 10 Juta Umat Bengkulu, InfoPublik …