Bengkulu, InfoPublik – Pelaksanaan pergelaran budaya terbesar di Bumi Merah Putih, Festival Tabut 2026, resmi bergulir di Lapangan Sport Center Pantai Panjang.
Selama 10 hari ke depan, kemeriahan ritual adat dan seni tradisional ini tidak hanya menjadi motor penggerak utama ekonomi kerakyatan, melainkan juga mendatangkan keuntungan finansial strategis bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemerintah Kota Bengkulu.
Pemerintah Provinsi Bengkulu bersama Dinas Pariwisata memproyeksikan perputaran uang selama festival berlangsung mampu menembus angka Rp25 miliar. Angka fantastis ini didorong oleh pergerakan 250.000 wisatawan yang secara langsung memicu peningkatan penerimaan pajak daerah bagi Pemkot Bengkulu.
Bagi Pemerintah Kota Bengkulu, Festival Tabut 2026 menjadi momentum krusial untuk mengejar target total PAD tahunan sebesar Rp400 miliar. Melalui Badan Pendapatan Daerah (Bapenda), Pemkot mengoptimalkan berbagai lini pendapatan.
Pemkot secara resmi menargetkan PAD parkir mencapai Rp60,7 juta dengan mengelola 73 titik kantong parkir berizin di zona festival. Langkah ini sekaligus memberantas pungutan liar (pungli).
Kemudian, memanfaatkan ramainya arus pengunjung, Pemkot menyiagakan Mobil Keliling PBB-P2 guna mempermudah masyarakat membayar Pajak Bumi dan Bangunan sektor Pedesaan dan Perkotaan langsung di lokasi acara.
Setelah itu, tingkat okupansi hotel, penginapan, dan omzet restoran yang meningkat tajam otomatis mendongkrak setoran pajak hotel dan restoran sebesar 10% ke kas daerah.
Selain keuntungan materi, Pemkot Bengkulu memetik keuntungan dari sisi manajemen tata ruang kota. Dinas Pariwisata bersama Satpol PP Kota Bengkulu menertibkan lapak liar di badan jalan Pantai Panjang dan merelokasi ratusan UMKM ke area khusus yang terdata resmi.
Langkah ini menciptakan lanskap kota yang bersih, teratur, aman, dan ramah investasi jangka panjang.
Gubernur Bengkulu menekankan bahwa sinergi antara pelestarian budaya, penguatan pelaku usaha mikro, dan optimalisasi kas daerah merupakan wujud nyata keberhasilan daerah. Uang berputar dari masyarakat, dikelola dengan transparan oleh pemerintah, dan kembali menjadi modal pembangunan infrastruktur Kota Bengkulu. (**)
