Bengkulu, InfoPublik – Rabu siang (7/1/26), Suasana di Jalan Penantian, Kelurahan Pematang Gubernur, seketika berubah haru saat Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi mengunjungi kediaman salah seorang warganya yang bernama Pandi.
Niat hati ingin menyerahkan bantuan kursi roda, namun pemandangan di depan mata justru menyayat hati sang pemimpin daerah.
Dedy tak kuasa menahan air mata saat melangkah masuk ke rumah kayu yang sudah usang dan rapuh tersebut. Bukan sekadar reyot, rumah milik Pandi ternyata menyatu langsung dengan kandang ayam.
Bau pengap, lantai tanah yang dingin, serta ketiadaan sirkulasi udara yang layak menjadi saksi bisu perjuangan Pandi yang kini hanya bisa terbaring tak berdaya.
“Mohon maaf, ini sudah sangat tidak layak. Bagaimana mungkin warga kita tinggal menyatu dengan kandang ayam seperti ini,” ujar Dedy dengan suara bergetar.
Luka di hati Walikota kian dalam saat mengetahui kenyataan pahit lainnya. Anak bungsu Pandi ternyata sudah putus sekolah.
Alasannya sederhana namun menyakitkan, ia kerap menjadi korban perundungan (bullying) dan dikucilkan oleh teman-temannya karena kondisi tempat tinggalnya yang dianggap tidak wajar dan kondisi ekonomi keluarga.
Melihat kenyataan yang memilukan ini, Dedy langsung mengambil langkah tegas. Ia menginstruksikan Camat, Lurah dan jajaran terkait untuk segera mengevakuasi keluarga Pandi.
“Kasihan mereka. Anaknya korban bullying, tinggal satu atap dengan ayam. Carikan kontrakan hari ini juga. Pindahkan mereka sekarang, jangan ditunda lagi,” tegasnya
Meski rumah tersebut bukan berdiri di tanah pribadi, Pemerintah Kota Bengkulu berkomitmen untuk melakukan rehab sementara agar bangunan lama setidaknya menjadi layak huni.
Namun untuk saat ini, prioritas utama adalah memberikan tempat bernaung yang sehat dan layak bagi Pandi dan anak-anaknya.
Aksi cepat ini menjadi pengingat bagi banyak pihak tentang pentingnya empati di tengah kesulitan warga. (**)
