Oleh : Rahmat Novri
Bengkulu, InfoPublik – Di bawah langit pagi Kota Bengkulu, suasana di sepanjang Jalan KZ Abidin I tampak berbeda pada Jumat, 30 Januari 2026.
Tidak ada ketegangan aparat atau teriakan protes pedagang. Yang ada hanyalah kepulan uap kopi,aroma lontong sayur, nasi uduk, dan gorengan yang dinikmati bersama oleh Walikota Dedy Wahyudi, Wakil Wali Kota Ronny PL Tobing, dan para Pedagang Kaki Lima (PKL). Momen sarapan bersama ini bukan sekadar rutinitas pagi, melainkan sebuah strategi “Diplomasi Meja Makan” dalam menata wajah kota secara humanis.
Alih-alih menurunkan alat berat sebagai langkah awal, duet Dedy-Ronny memilih duduk bersama pedagang. Dalam dialog santai tersebut, pemerintah kota mendengarkan para PKL mengenai keberlangsungan usaha mereka pasca relokasi.
“Kita ingin kota ini rapi, tapi perut pedagang tidak boleh lapar,” ungkap pesan tersirat dari aksi tersebut. Sebagai bentuk dukungan nyata, Dedy bahkan terlihat turun langsung membantu mengangkat lapak pedagang untuk dipindahkan secara sukarela.
Pemerintah Kota Bengkulu tidak membiarkan pedagang tanpa arah. Sebanyak 88 PKL yang sebelumnya memenuhi badan jalan kini mendapatkan tempat baru di kawasan Pasar Tradisional Modern (PTM).
Untuk meringankan beban masa transisi, Pemkot memberikan kompensasi berupa gratis biaya sewa selama 3 bulan pertama di lokasi baru.
Penataan yang diberi tajuk “Relokasi Mandiri Camkoha” ini terbukti efektif. Para pedagang bersepakat untuk pindah secara mandiri tanpa paksaan, sebuah capaian langka dalam proses penertiban ruang publik.
Langkah ini mempertegas visi kepemimpinan Dedy-Ronny (periode 2025–2030) yang lebih mengedepankan pendekatan dialogis dan kekeluargaan dalam membangun infrastruktur kota yang modern namun tetap berhati rakyat. (**)
