Kamis , 15 November 2018
Home / Bengkulu / Korban Keracunan : Tidak Ada Yang Perlu Disalahkan

Korban Keracunan : Tidak Ada Yang Perlu Disalahkan

Dugaan keracunan makanan yang menimpa ratusan tamu pesta pernikahan warga Jalan Basuki Rahmat, Kelurahan Belakang Pondok, Kecamatan Ratu Samban, Kota Bengkulu, pada Minggu (15/4/) lalu menyisakan banyak kisah. Beberapa korban tidak menyangka, makanan yang disantap membuat tubuh mereka menjadi lemah tak berdaya dikeesokkan harinya, termasuk anak-anak berusia sekolah. 

Tim Media Center Kominfo Kota Bengkulu Kamis (19/4) melakukan penelusuran ke beberapa korban dan tetangga Nurlela (60) selaku penyelenggara pesta. 

Bagaimana kisah mereka? Berikut laporannya…

Kamis pagi (19/4/2018), suasana di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 22 Kota Bengkulu Jalan Bangka, Pasar Minggu, terlihat ramai. Siswa-siswa yang ada di sekolah itu tampak riang bermain di halaman.

“Kami tengah menyiapkan peringatan Isra’ Mi’raj,” kata Guru Olahraga SDN 22 Kota Bengkulu, Zulman Effendi.

Di sekolah ini, banyak siswanya yang turut menjadi korban keracunan akibat menyantap makanan di pesta pernikahan anak Nurlela dikarenakan rata-rata orangtua siswa adalah tamu undangan di pesta pernikahan anak Nurlela.

Namun, beberapa korban saat ini kondisi mereka sudah membaik. Hanya satu siswa saja yang masih di rawat di RSUD Kota Bengkulu.

Dikatakan Zulman, siswa yang masih dirawat tersebut bernama Brenda. Pelajar kelas enam itu masuk rumah sakit sejak Senin (16/4) lalu.

Zulman bercerita, Brenda sebenarnya sempat sekolah pada hari itu. Ia juga sempat mengikuti pra Ujian Akhir Sekolah (UAS). Namun, tiba-tiba ia merasa mual. Perutnya melilit dan akhirnya muntah.

“Kemudian kami bawa ke Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dan kami rawat,” jelasnya.

Hal yang sama juga disampaikan Wakil Kepala SDN 22 Kota Bengkulu Susi, Brenda yang saat itu muntah-muntah diberikan minyak kayu putih. Pihak sekolah belum curiga bila Brenda keracunan.

“Kami pikir masuk angin saja. Waktu kami tahu itu akibat keracunan, dia kemudian kami beri air putih dan susu beruang,” ceritanya.

Di ruang UKS, Brenda juga menyempatkan diri untuk mengerjakan ujian. Dia dibantu adiknya, Natasya, yang satu kelas dengannya.

“Natasya ini lah yang membantu Brenda mengerjakan UAS,” kata dia.

Di tempat yang sama, Natasya mengakui Brenda memang sempat makan di pesta pernikahan tersebut. Tak hanya Brenda sebenarnya, dia yang ikut orangtuanya ke pesta itu juga sempat makan.

“Saya makan satu kali, waktu malam itu. Kalau Brenda tiga kali,” kata Natasya, sembari mengatakan bila dia makan soto dan ayam goreng.

Natasya juga sempat merasakan efek samping makanan kendati tidak separah kakaknya yang sampai muntah. Dia hanya merasa mual dan pusing saja.

“Rasanya itu perut ini seperti melilit, badan lemas, tapi tidak sampai muntah,” kata dia.

Tim Media Center kemudian mendatangi kediaman Brenda. Menyelusuri jalan lorong di samping Masjid Al-Manar, Pasar Minggu. Tim berhasil bertemu dengan Ibu Brenda, Nela.

Kepada kami, Nela menerangkan kondisi anaknya sudah membaik. Namun, saat ini masih terbaring lemas di RSUD Kota Bengkulu.

“Brenda masih dirawat di ruang Safa, lantai dua RSUD Kota Bengkulu. Ini saya mau ke rumah sakit,” ucapnya.

Ibu yang akrab dipanggil Uni itu mengaku anaknya sudah menampakkan tanda-tanda keracunan sejak Minggu sore. Karena itu, pada Senin pagi, ia membawa anaknya ke rumah sakit. Namun langsung pulang, tidak dirawat.

“Senin itu sempat sekolah juga, tapi sorenya masuk rumah sakit lagi,” tuturnya.

Brenda, kata dia, sempat mengaku mual dan melilit perutnya. Tulang-tulangnya juga berasa sakit dan beberapa kali muntah sehingga badannya lemah tak berdaya.

“Kalau saya cuma mencret saja. Kemarin sudah diberi obat dari bidan dekat sini,” jelas Uni Nel yang juga makan di pesta itu.

Menanggapi musibah tersebut, dia menganggap kejadian itu sebagai musibah dan bukan disengaja oleh tuan rumah.

“Tidak ada yang perlu disalahkan, kita tidak bisa menyalahkan tuan rumah atau tukang masak. Karena tidak mungkinlah tuan rumah mau meracuni orang. Toh, pihak keluarganya saja juga kena,” bebernya.

Para tetangga, sambungnya, juga tidak ada yang menyalahkan keluarga penyelenggara hajat. “Tidak ada yang mencela,” kata dia.

Alhamdulillah Tidak Makan

Di sisi lain, Amak (55) yang merupakan tetangga Nurlela mengaku tidak makan saat pesta tersebut. Hal ini lantaran dia sibuk menjaga warungnya.

“Alhamdulillah, ada hikmahnya juga saya tidak makan waktu itu. Karena waktu itu saya sibuk berjualan, banyak yang belanja,” ungkapnya.

Sebagai tetangga, ia juga sempat hadir di pesta tersebut. Namun, ia hanya mengantarkan amplop saja dan langsung pulang untuk berdagang es di pinggir jalan raya yang tak jauh dari Rumah Dinas Walikota.

Namun, Amak mengaku keluarganya yang sempat makan di sana juga terkena dampak. “Anak saya, menantu, cucu, juga mual dan muntah, tapi rawat jalan saja karena tidak begitu parah,” sampainya.

Dia juga minta agar para korban tidak menyalahkan keluarga pengantin. Sebab menurutnya, kejadian ini tidak mungkin disengaja oleh pihak keluarga.

“Kepada polisi yang sempat ke sini saya juga sempat sampaikan. Tidak usah diperpanjang, kasihan keluarga pengantin. Apalagi Ibu Nurlela ini sudah tua, kasian kalau masih harus mondar mandir ke kantor polisi,” ungkapnya.

Untuk diketahui, sejak Selasa (17/4) lalu Kepala Dinas Kesehatan Kota Bengkulu Susilawaty mengatakan musibah dugaan keracunan makanan yang menimpa ratusan korban ini telah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Sampel makanan termasuk air minum dam muntahan korban sudah dibawa ke Balai Pom dan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) untuk diteliti dan hasilnya akan dikeluarkan 3 sampai 5 hari. (**)

Pewarta : Tedi Cahyono
Foto : Ernel Corazon
Editor : Nugroho Tri Putra

About Tedi CHO

Check Also

PENGUMUMAN NOMOR : 800/04/B.IV/2018 Tentang Seleksi Calon Direksi Perusahaan Daerah Ratu Agung Niaga

Terkait