Bengkulu, InfoPublik – Di bawah langit Kota Bengkulu yang mulai menghangat oleh cahaya Idul Adha, langkah Dedy Wahyudi terhenti di sebuah sudut yang sangat ia kenal, Kelurahan Berkas.

Bagi banyak orang, ini hanyalah sebuah titik di peta kota, namun bagi Sang Walikota, setiap jengkal tanah di sini adalah jejak masa kecilnya yang sarat kenangan.

Tahun ini, ada yang berbeda dalam kurbannya. Bukan sekadar ritual ibadah, melainkan sebuah surat cinta yang ia titipkan melalui seekor hewan kurban. Di atas kertas nama yang tertera, bukan namanya yang ia agungkan, melainkan nama seorang wanita yang telah menjadi jangkar hidupnya, Almarhumah Zaharia Binti Kasim.

Dedy memilih Berkas bukan tanpa alasan. Di sinilah, di gang-gang sempit dan aroma laut yang khas, ia dibesarkan dalam dekapan kasih sayang sang ibunda.

Ia ingin kurbannya “pulang” ke tempat di mana doa-doa ibunya pertama kali dipanjatkan untuk masa depannya.

“Ini adalah bentuk bakti saya yang takkan pernah putus,” ungkapnya dengan nada yang bergetar lembut.

Baginya, setiap helai bulu hewan kurban itu adalah simbol rasa syukur atas asuhan tangan dingin sang ibu yang menjadikannya sosok pemimpin seperti sekarang.

Saat proses penyembelihan berlangsung nantinya, suasana haru tentu akan menyelimuti warga. Mereka tidak hanya melihat seorang pejabat yang berkurban, tetapi melihat seorang anak lelaki yang sedang merindu.

Tentunya bayang-bayang masa kecil Dedy yang berlarian di Berkas seolah hadir kembali, bersanding dengan ketulusannya memuliakan nama sang ibunda.

Cinta itu kini mengalir melalui kurban yang akan dibagikan kepada tetangga dan kerabat lama. Di Kelurahan Berkas, Dedy Wahyudi membuktikan bahwa setinggi apa pun pohon tumbuh, ia takkan pernah melupakan tanah yang memberinya nutrisi.

Bagi Ibunda Zaharia Binti Kasim, kurban ini adalah bukti nyata bahwa cinta seorang ibu akan terus hidup dan berbuah kebaikan, bahkan saat ia telah tenang di sisi-Nya. (**)

error: Content is protected !!