Bengkulu, InfoPublik – Pagi menjelang siang di hari Jumat (30/1/26), yang khidmat menjadi saksi bisu sebuah perubahan besar bagi tata kota Bengkulu.

88 pedagang kaki lima (PKL) yang selama belasan tahun menghuni kawasan Jalan KZ Abidin I secara resmi menyatakan kesediaan mereka untuk direlokasi ke Pasar Tradisional Modern (PTM).

Pernyataan yang disampaikan oleh Ardius Geong, perwakilan pedagang sekaligus motor penggerak aspirasi warga, menandai berakhirnya era berjualan di trotoar dan dimulainya babak baru kehidupan ekonomi yang lebih tertata.

Di hadapan Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi, Wakil Walikota Ronny PL Tobing, serta jajaran Pemkot, Ardius menegaskan bahwa keputusan ini diambil tanpa ada paksaan dari pihak mana pun

Dalam orasi yang menyentuh hati nurani, Ardius Geong memaparkan filosofi hidup tentang batasan waktu. Ia mengibaratkan keberadaan pedagang di lokasi lama layaknya masa pendidikan atau kontrak kerja yang memiliki titik akhir.

“Hari ini adalah hari bersejarah. Di mana kami sudah merasa puas, katakanlah sudah sampai pada waktunya. Sebagaimana sekolah SD 6 tahun, SMP 3 tahun. Dunia pun punya kontrak waktu bagi kita. Tinggal kita menanti, berdoa, berusaha, lalu bertawakal,” ujar Ardius.

Ia juga menekankan bahwa langkah “Tim 7” pedagang dalam melakukan lobi-lobi dengan pemerintah adalah murni gerakan hati nurani.

“Kami bergerak tanpa tekanan, baik dari pedagang maupun pemerintah. Ini adalah beban moral kami untuk mencari solusi terbaik demi masa depan bersama,” jelasnya.

Relokasi ini mencakup puluhan pedagang yang selama ini menempati bahu jalan dan trotoar. Berdasarkan data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perdagrin) Kota Bengkulu, pemerintah telah menyiapkan skema yang inklusif untuk memastikan pedagang mendapatkan tempat yang layak di dalam kawasan PTM.

Pihak Pemkot Bengkulu mengapresiasi kerukunan warga Kelurahan Kebun Dahri yang mendominasi kawasan tersebut karena memilih jalur dialog ketimbang konfrontatif.

Program “Relokasi Mandiri Camkoha” ini pun dipastikan berjalan tanpa arogansi atau caci maki, dengan tetap mengedepankan pendekatan kekeluargaan.

Selain urusan ekonomi, pertemuan ini juga memperlihatkan sinergi kuat antara warga dan pemimpinnya. Ardius mengungkapkan permohonan maaf jika selama perjuangan bertahan di lokasi lama terdapat gesekan dengan petugas penegak Perda.

Di sisi lain, ia menyatakan dukungannya terhadap keberlanjutan program pemerintah yang dinilai peduli pada rakyat kecil.

“Mudah-mudahan harapan kami ke depan, direlokasi ke tempat yang layak, pada akhirnya mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik,” tutupnya yang diamini oleh para pedagang yang hadir.

Dengan tuntasnya relokasi di kawasan KZ Abidin I, wajah pusat kota Bengkulu diharapkan menjadi lebih bersih, tertib, dan nyaman bagi pejalan kaki, sekaligus menghidupkan kembali denyut ekonomi di dalam pasar resmi yang representatif. (MCKB R.Novri/Farizal/Okky)

By Bang Hend Badak

Jasad itu hanya sementara, Tetapi sebuah karya bisa melampaui setiap masa.

error: Content is protected !!