Kamis , 1 Oktober 2020
Home / Opini Masa / CORONA DAN UPAYA PENCEGAHANNYA

CORONA DAN UPAYA PENCEGAHANNYA

Oleh : Iwan Hendrawan, S.I.P., M.A.P.*

Dalam  beberapa hari ke depan perhatian penduduk bumi termasuk kita yang berdomisili di Kota Bengkulu belum akan lepas dari isu Virus Corona yang kian masif dan ganas penyebarannya, bahkan diprediksi puncaknya akan terjadi dalam dua bulan ke depan sehingga pemerintah menetapkan keadaan tanggap darurat virus corona ini selama 91 hari. Di Indonesia sendiri pemerintah melalui data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 lewat juru bicaranya Achmad Yurianto yang disiarkan langsung via kanal Youtube milik BNPB menyatakan bahwa pertanggal 23 Maret 2020, ada 64 kasus baru positif virus corona dengan total pasien di Indonesia mencapai 579 orang, 29 yang sembuh dan 48 orang meninggal dunia.  Sementara di Provinsi Bengkulu sendiri sebagaimana yang penulis kutip dari Koran RB pertanggal 23 Maret 2020 ada 24 kasus yang dibagi dalam berapa kategori yaitu ODP 19 orang, PDP 3 orang, Sehat 2 orang dan meninggal 1 orang.

Kasus corona sendiri saat ini telah menyebar ke beberapa belahan dunia lainnya,virus yang berasal dari wuhan ini setidaknya menurut data yang ada telah menjangkiti 159 negara dengan adanya 8 negara baru yang terinfeksi, dikutip dari Berita di sebuah Media Elektronik Nasional pertanggal 22 Maret 2020 sedikitnya terkonfirmasi sudah ada 316.409 yang terkena virus corona ini, sembuh 95.922 orang dan meninggal dunia 13.599 orang.

Apa Itu Corona dan Bagaimana penyebarannya?

Mahluk seperti apakah virus corona ini? Sehingga seisi bumi ini menjadi mencekam dalam menghadapinya?. Tidak bisa dipungkiri dalam beberapa pekan ini bahkan dalam beberapa bulan ke depan, mulai dari anak-anak, remaja,dan  orang dewasa , tua muda sangat familiar dengan istilah Covid 19 atau corona.  Virus ini sering disebut dan viral tapi tidak semuanya mengerti apakah Corona itu  dan bagaimanakah cara penyebarannya . Corona adalah jenis virus yang menyebabkan terjadinya infeksi pada hidung, sinus, tenggorokan bagian atas dan yang paling berbahaya ketika penderitanya mengalami pneumonia (sesak nafas akibat peradangan di paru-paru). Di duga virus ini berasal dari daratan china tepatnya dari Pasar Hewan Huanan di Wuhan, WHO menetapkan virus ini secara resmi bernama Novel Coronavius, yang berjenis zoonozis yang ditularkan dari hewan ke manusia.

Menurut World Helath Organization (WHO) sebagaimana yang penulis kutip dari laman CNBC.Com, Senin,(23/03/ 2020), COVID 19 menular melalui orang yang telah terinfeksi virus corona. Penyakit ini dapat dengan mudah menyebar melalui tetesan kecil dari hidung atau mulut ketika seseorang yang terinfeksi virus ini bersin atau batuk. Tetesan itu kemudian mendarat di sebuah benda atau permukaan yang lalu disentuh dan orang sehat tersebut menyentuh mata, hidung atau mulut mereka. Ketika tetesan kecil itu dihirup oleh seseorang atau berdekatan dengan orang yang terinfeksi corona.

Selanjutnya menurut WHO “sangatlah penting bagi seseorang untuk menjaga jarak 1 meter lebih dari orang yang sakit. Hingga kini belum ada penelitian yang menyatakan virus corona COVID 19 bisa menular melalui udara”.

Adapun gejala yang ditimbulkan dari orang yang terinfeksi COVID 19 ini menurut WHO adalah yang paling umum adalah demam, kelelahan, dan batuk kering. Beberapa pasien mungkin mengalami sakit dan nyeri, hidung tersumbat, pilek, sakit tenggorakan atau diare. Mereka yang rentan terhadap penyebaran virus ini adalah orang yang lebih tua, dan mereka yang memiliki riwayat penyakit seperti tekanan darah tinggi, masalah jantung atau diabetes.

Upaya – upaya Yang Dilakukan Dalam Menangkal Laju Virus Corona

Makin masifnya penyebaran dan korban yang berjatuhan yang diakibatkan oleh virus corona ini tentu saja membuat kepanikan di tengah-tengah masyarakat, untuk itu hal-hal mesti dilakukan dengan cepat dan tanggap baik oleh pemerintah maupun masyarakat adalah secara bersama-sama menyadari bahwa virus ini sangat ganas dan berbahaya oleh karena itu laju penanggulangnyapun harus dilakukan secara bersama-sama pula. Sebab tanpa dukungan dan kepedulian dari masyarakat untuk mematuhi himbauan bahkan intruksi dari pemeritah pusat dan daerah maka akan sulit rasanya untuk memutus mata rantai penyebaran COVID 19 ini karena  kepatuhan dan ketaatan kita bersama adalah kuncinya.

Dari sekian banyak  upaya dalam menangkal menyebarnya Virus Corona adalah dengan cara melakukan ‘ social distancing’.

Apa itu Social Distancing?

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), istilah ’social distancing’ atau ‘ jarak sosial’  memiliki arti yaitu menghindari area public (umum), menjauhi keramaian, dan menjaga jarak optimal 2 meter dari orang lain. Dengan menjaga jarak maka  kita dapat terhindar dari percikan virus yang dapat dengan mudah terhirup saat bernafas dalam berinteraksi dengan orang lain dan  selama kita beraktivitas sehari-hari, dengan demikian diharapkan  penyebaran penyakit ini dapat berkurang.

Mengutip pendapat  Sumarni Sumai dalam tulisannya yang di muat di Sulbar Express, Senin, 23/03/2020 yang berjudul “ Social Distancing; Solusi Covid -19 dan Hambatannya” bahwa social distancing ini dapat dilakukan secara pribadi, misalnya dengan tidak keluar rumah, membatasi jarak dengan orang lain, menghindari tempat umum. Atau dalam skala luasya adalah berupa kebijakan yang ditetapkan pemerintah misalnya melarang kerumunan, membatalkan acara yang melibatkan banyak orang, merumahkan karyawan, dan anak sekolah.

Social distancing ini tidak mudah dan serta merta dapat diterima dan dilaksanakan oleh masyarakat kita, karena boleh dikatakan social distancing  ini tidak familiar dengan pola interaksi social masyarakat kita yang menganut budaya gotong royong yang menjunjung tinggi adat ketimuran seperti suka bersilaturahmi, kumpul-kumpul, dan juga rasa “ewuh pakewuh” terutama tidak bisa menghindari jika ada undangan atau pesta. Di samping itu budaya konsumtif masyarakat kita untuk menghindari ruang public seperti pasar, mall dan pusat-pusat keramaian lainnya juga tidak serta merta hilang begitu saja dengan adanya wabah corona ini, lucunyan lagi bahkan ada diantara masyarakat kita merasakan hal yang “aneh” dan “bosan” dengan adanya social distancing ini dan ujungnya penerapan social distancing ini terasa kurang efektif.

Salah satu hal positif mungkin juga negatif dalam program social distancing ini adalah munculnya kreatifitas masyarakat dalam mencegah corona ini dengan membuat sendiri hand sanitezer, dinsekfektan, masker bahkan meme dan vidio lucu untuk mengisi waktu luangnya.

Kurang efektifnya social distancing ini  dan hambatan yang dihadapi oleh pemerintah  menurut Sumarni Sumai dalam artikelnya yang berjudul “ Social Distancing; Solusi Covid -19 dan Hambatannya” yaitu ada lima yaitu : Pertama, kurangnya sosialisasi pemerintah. Sehingga saat program social distancing diterapkan masih banyak lokasi wisata dan tempat umum yang seharusnya dihindari namun tetap ramai dikunjungi. Kedua, Pemerintah terkesan tidak tegas dalam memberlakukan program social distancing ini, dengan tidak adanya sanksi bagi masyarakat yang mengabaikannya seperti masih ditemukannya WNA yang terus menerus berseliweran di Bandara Regional. Ketiga, minimnya edukasi dan informasi yang memadai mengenai pencegahan virus corona, sehingga masyarakat terkesan acuh tak acuh dan mengabaikan bahaya COVID 19. Keempat, pemerintah belum memikirkan solusi bagi masyarakat dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidup bagi masyarakat yang tidak bekerja sementara waktu terkait diberlakukannya social distancing ini. Kelima, minimnya tenaga dan alat-alat medis di perdesaan (sebenarnya juga di daerah perkotaan) dalam mendapatkan pelayanan  dengan cepat dan tepat dalam pengobatan jika terjangkiti oleh Virus Corona ini.

Upaya Pemerintah Kota Bengkulu Dalam Pencegahan Corona

Hari ini kita melihat pemerintah pusat dan juga dibeberapa daerah, masing-masing pemerintah daerahnya telah melakukan pencegahan dengan melakukan beberapa kebijakan agat corona tidak menyebar luas. Walaupun di awal ketika virus corona  ini secara resmi oleh Presiden Jokowi pada tanggal 2 Maret 2020 lalu dinyatakan  ada dua orang yang positif terinfeksi COVID 19 tiba –tiba publik “Kaget” dan Panik. Menurut Pengamat Kebijakan Publik, Trubus Rahadiansyah,  mengatakan  “kepanikan di tingkat masyarakat itu tak lepas dari ketidakjelasan pemerintah Indonesia dalam menanggapi wabah virus corona. Padahal, dalam dua bulan terakhir, setidaknya negara-negara di seluruh dunia melahirkan kebijakan masing-masing yang bisa dikatakan tegas terkait risiko wabah corona”. Lebih lanjut trubus menyatakan bahwa “Masyarakat panik membeli kemudian kedua nilai tukar Rupiah anjlok, banyak pengusaha yang rugi juga, perhotelan dan pariwisata, pemerintah rugi. Ini dampaknya panjang jadinya,”(CNNIndonesia.com, Selasa (3/3))

Namun demikian tidak ada kata terlambat dalam melawan penyebaran virus corona, saat ini pemerintah pusat hingga pemerintah daerah telah melakukan konsolidasi terkait penanggulangan virus corona. Di Kota Bengkulu sendiri melalui Walikota Helmi Hasan  telah sigap merespon akan bahayanya virus corona ini dengan mengeluarkan Instruksi Walikota. Menurut Walikota Bengkulu H. Helmi Hasan “ Pemerintah Kota Bengkulu tidak ingin ketika sudah ada yang terjangkiti baru ambil kebijakan, kita ingin seratus persen warga Kota Bengkulu tidak ada yang terkena Corona” lebih lanjut Walikota juga menghimbau” agar masyarakat Kota Bengkulu tidak panik karna pemerintah akan melakukan tindakan terbaik agar masyarakat terhindar dari wabah Corona”.

Untuk Walikota Bengkulu H. Helmi Hasan mengeluarkan beberapa  kebijakan dengan tiga pendekatan sebagi upaya ,mencegah dan meluasnya sebaran  Virus Corona yaitu dengan melakukan  pendekatan religi, pendekatan humanis dan pendekatan medis. Adapun langkah kongkritnya yaitu; 1. mengajak umat beragama untuk berdo’a mohon ampunan dan taubat atas musibah corona ini, 2. dengan meliburkan sekolah yang menjadi kewenangan Pemerintah Kota, 3. menunda seluruh kegiatan yang mengundang keramaian termasuk agenda HUT Kota Bengkulu yang ke 301, 4. menghidari kontak fisik langsung, menyesuaikan jam kerja ASN, 5. melarang para pejabat dan ASN untuk Dinas Luar sementara waktu kecuali darurat dan penting,6. melakukan penyemprotan disekfektan di rumah-rumah ibadah dan ruang publik,7. menyediakan sarana  prasarana dan  fasilitas kesehatan untuk cegah dan pengobatan COVID 19, 8.  penjagaan pintu-pintu masuk ke Kota Bengkulu bagi para pendatang dari zona merah yang terjangkiti COVID 19, 9. menghimbau pusat-pusat hiburan wisata, dan pusat keramaian lainnya untuk tutup sementara.

Agar masyarakat tidak terus-terusan dilanda rasa takut dan panik, tentu saja masyarakat harus diedukasi lewat informasi yang dapat dipertanggunjawabkan dan mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap  kebijakan yang dibuat oleh pemerintah lewat langkah-langkah kongkrit pencegahan corona. Di samping itu secara mandiri masyarakat juga harus melakukan upaya mandiri dengan mengkarantina diri sendiri terlebih jika pulang dari daerah zona merah yang terjangkit COVID 19. Secara garis besar ada dua hal yang patut dilakukan oleh masing-masing individu dalam upaya pencegahan COVID 19 ini, yang pertama adalah  social defense dan kedua self difense.  Social defense berarti masyarakat sebagai sebuah komunitas sosial secara bersama-sama sadar dan peduli untuk melakukan upaya pencegahan dengan melakukan social distancing. Sedangkan self defense berarti secara individu masyarakat membentengi dirinya dengan melakukan pecegahan seperti menjaga kesiapan mental agar terhindar sari stress,panik serta menjaga imunitas tubuh dan kebersihan sebelum dan sesudah beraktivitas diluar. Menurut Guru Besar Fakultas Psikologi UGM,  Prof. Dr. Koentjoro,sebagaimana yang penulis kutip dari laman Kompas.com, Sabtu (21/3/2020) mengungkapkan hanya ada satu cara yang bisa dilakukan oleh masyarakat agar tidak panik menghadapi situasi wabah penyakit ini, yakni kembali ke konsep dasarnya. “Satu yang harus kita lakukan, kita harus kembali kepada konsep pentingnya antibodi. Virus itu, apa pun itu, ada di sekitar kita. Tetapi yang bisa melawan hanya antibodi kita,” disamping itu kita  juga jangan lupa untuk tetap beraktivitas dengan melakukan rolahraga serta mengkonsumsi vitamin C.

Social defense dan self defense sangat penting untuk dilakukan terlebih lagi COVID 19 ini belum dapat di prediksi kapan akan berakhir, sementara obatnyapun belum ditemukan. Diperpanjangnya masa tanggap darurat COVID 19 ini hingga 3 bulan kedepan akan banyak berdampak bagi kehidupan sosial,ekonomi, politik sosial budaya, tentu saja hal ini perlu kita antisipasi baik oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah termasuk masyarakat yang terdampak dengan penyebaran virus corona ini. Terlebih lagi pemerintah telah memberikan peringatan dini bahwa puncak dari penyebaran virus Corona ini akan terjadi dua bulan ke depan yang bersamaan dengan bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1441 H. Ayo kita dukung pemerintah untuk bersama-sama menekan laju penyebaran ganasnya virus Corona dengan mematuhi dan mentaati segala himbauan dan larangan yang diberikan, jangan panik dan jangan ingin menang sendiri, Keep Strong Indonesia.

*Penulis adalah Fungsional Umum di Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Kota Bengkulu

About Nugroho Tri Putra

Baca Juga

Merawat Cinta di tengah Bencana

Oleh : Nugroho Tri Putra, M.I.Kom* Makin hari, dampak wabah covid-19 semakin terasa. Khususnya di …