Bengkulu, InfoPublik – Kawasan Belungguk Point berubah menjadi lautan manusia saat puluhan ribu pengunjung memadati gelaran festival yang menghadirkan kemeriahan di empat panggung sekaligus.
Mengusung konsep keberagaman, acara ini sukses menyatukan elemen tradisi, komunitas modern, hingga identitas anak muda dalam satu ruang.
1. Belungguk Point Stage: Episentrum Budaya dan Kemegahan
Panggung utama menjadi pusat perhatian dengan sajian budaya lokal yang kental. Penonton dibuat terpukau oleh dentuman Dol Kolosal yang menggetarkan arena, disusul dengan Parade Budaya yang penuh warna. Suasana semakin elegan dengan sesi Fashion Show dan Opening Ceremony yang megah. Sebagai penutup, band kebanggaan Bengkulu, Cholesterol, berhasil membius ribuan pasang mata melalui aksi panggung mereka yang atraktif bersama Walikota. Keberuntungan juga menyertai beberapa pengunjung yang berhasil membawa pulang berbagai doorprize menarik di panggung ini.
2. Juanda Stage: Wadah Orasi dan Kreativitas Tanpa Batas
Bergeser ke Juanda Stage, atmosfer semangat muda begitu terasa. Panggung ini menjadi ruang bagi Orasi Kepemudaan yang inspiratif dan aksi melukis Mural secara langsung yang mempercantik area. Tak hanya serius, gelak tawa pecah saat para komika naik panggung dalam sesi Stand Up Comedy. Keceriaan juga terlihat dari aksi komunitas Push Bike yang diikuti oleh peserta cilik.
3. Lempok Stage: Titik Kumpul Komunitas dan Pesta Musik
Bagi pengunjung yang mencari hiburan santai, Lempok Stage menjadi destinasi utama. Dengan iringan Parade 6 DJ dan Live PA Karaoke, pengunjung diajak bernyanyi dan berdansa bersama. Area ini juga dipadati oleh komunitas Skateboard yang memamerkan trik-trik mereka.
4. Bagarhiu Stage: Distorsi Musik Keras dan Invasi Wibu
Pecinta budaya pop Jepang dan musik distorsi mendapatkan tempat khusus di Bagarhiu Stage. Penampilan Dafara Bros hingga deretan band beraliran keras seperti The Kursk, Skypiea, dan Goddam sukses memanaskan suasana dengan energi yang meluap.
Uniknya, panggung ini juga menjadi titik temu yang inklusif antara komunitas pecinta anime (Wibu) dan komunitas lari yang ikut meramaikan suasana.
Festival ini tidak hanya sekadar hiburan, namun menjadi bukti bangkitnya ekosistem kreatif di Bengkulu yang mampu menyerap animo massa dalam jumlah besar. Kemeriahan di empat stage ini menunjukkan bahwa semua elemen masyarakat memiliki ruang yang sama untuk berekspresi. (MCKB R.Novri/Sendy/Farizal/Prenkki/Okky)
