Bengkulu, InfoPublik – Suasana malam puncak Festival Tabut 2026 berubah menjadi panggung emosi yang bergelora saat sosok komandan tertinggi pasukan elite tanah air hadir di tengah-tengah lautan manusia.
Panglima Komando Pasukan Khusus (Pangkopassus), Letjen TNI Djon Afriandi, yang baru saja menyandang gelar kehormatan Panglima Raja dari Badan Musyawarah Adat (BMA) Provinsi Bengkulu, tampak melebur sepenuhnya dengan denyut nadi budaya Bumi Merah Putih.
Malam itu, Sang Jenderal menanggalkan sejenak baret merah dan seragam loreng kebanggaannya. Ia tampil penuh wibawa dalam balutan pakaian putih suci, lengkap dengan kbek palak (ikat kepala) serta kain sarung adat Bengkulu yang melingkar erat.
Penampilan ini bukan sekadar formalitas, melainkan simbol penegasan atas ikatan darah dan batin sang perwira tinggi yang mengalir kuat dari tanah leluhurnya.
Berdasarkan pantauan langsung tim Media Center Kota Bengkulu, Letjen TNI Djon Afriandi hadir didampingi oleh istri tercinta dan keluarga besarnya.
Duduk di barisan depan, tatapan mata Sang Panglima seolah terkunci pada kemegahan panggung. Jiwa komandonya yang biasa berhadapan dengan situasi taktis seketika bergetar hebat saat dentuman perkusi dhol mulai membakar atmosfer malam.
Suara gemuruh dhol yang sarat magis, dipadukan dengan kelihaian gerak eksotis tari kreasi serta hentakan energi dari penampilan band lokal, berhasil menghipnotis seluruh perhatian sang jenderal bintang tiga tersebut.
Sepanjang rangkaian pertunjukan, gemuruh tepuk tangan dari tangan Sang Panglima tak henti-hentinya memecah malam. Setiap transisi gerakan penari dan setiap ketukan dhol yang menghentak dada diapresiasinya dengan penuh penghormatan.
Panglima Kopassus, Letjen TNI Djon Afriandi benar-benar dibuat terpukau. Ia tidak hanya terpesona oleh mahakarya seni yang tersaji di atas panggung, tetapi juga oleh dahsyatnya magnet festival budaya Bengkulu yang mampu menyatukan serta menggerakkan ribuan masyarakat untuk tumpah ruah dalam satu semangat pelestarian.
Malam puncak tersebut menjadi saksi nyata bagaimana seorang panglima pasukan khusus larut dalam keagungan warisan budaya yang begitu dicintai rakyatnya. (**)
