Bengkulu, InfoPublik – Deru mesin bus penjemput beradu dengan isak tangis bahagia yang pecah di asrama haji. Ratusan keluarga berpelukan, merayakan kepulangan sanak saudara yang baru saja menyelesaikan rukun Islam kelima.

Namun, di balik senyum dan air mata haru para jemaah haji Kota Bengkulu, terselip sebuah kisah kepemimpinan dan pengorbanan yang membekas jauh di lubuk hati mereka.

Kisah itu datang dari Arab Saudi, tempat di mana status jabatan luluh lantak oleh rasa kemanusiaan. Adalah Dedy Wahyudi, Walikota Bengkulu yang saat itu memilih melepaskan seluruh atribut kemewahan dinasnya demi menjadi pelayan langsung bagi warganya yang sedang berjuang di tanah suci.

Ibadah haji adalah perjuangan fisik yang berat. Cuaca ekstrem, kepadatan massa, dan agenda ibadah yang padat perlahan mulai menggerogoti kesehatan para jemaah. Satu per satu dari mereka terserang batuk, flu berat, hingga kelelahan akut.

Situasi kian pelik ketika dokter kloter yang bertugas mendadak berhalangan hadir karena kendala teknis. Melihat warganya mulai lunglai, Dedy tidak tinggal diam di dalam fasilitas nyamannya. Tanpa ragu, ia menyulap kamar hotel pribadinya menjadi posko obat darurat.

Tidak sekadar menyediakan tempat, Dedy turun tangan langsung. Ia menanggalkan protokoler pejabat dan memilih menjadi “asisten kesehatan” dadakan. Mendampingi petugas medis yang kewalahan, Dedy ikut memilah obat, menyiapkan peralatan, dan menyusun strategi penanganan.

Mereka tidak menunggu jemaah datang mengeluh. Dengan sistem jemput bola, Dedy berjalan menyusuri lorong-lorong hotel. Ia mengetuk pintu demi pintu kamar, memastikan tidak ada satu pun jemaah, khususnya para lansia yang menahan sakit sendirian dalam sepi.

Gerakan humanis orang nomor satu di Kota Bengkulu ini diakui secara mendalam oleh seluruh jemaah yang tergabung dalam kloter tersebut. Salah seorang jemaah lansia menuturkan bagaimana terkejutnya ia saat membuka pintu kamar.

“Saya mengira itu petugas hotel atau dokter yang datang. Begitu pintu dibuka, ternyata Pak Walikota sendiri yang berdiri memegang obat. Beliau bertanya dengan sangat lembut tentang kondisi saya, lalu ikut memastikan saya meminum obatnya. Kami semua menangis haru, tidak menyangka pemimpin kami mau turun tangan mengurus kami di tanah suci,” ungkap salah seorang jemaah dengan mata berkaca-kaca.

Bagi para jemaah, aksi Dedy Wahyudi bukan sekadar pemenuhan tugas kedinasan, melainkan ketulusan seorang anak yang merawat orang tuanya. Di sela-sela waktu ibadahnya yang padat, ia membagi energi untuk memastikan ketahanan fisik warganya tetap terjaga hingga seluruh rangkaian haji usai.

Kini, prosesi haji telah berlalu, dan para jemaah telah kembali ke rumah masing-masing di Kota Bengkulu. Namun, kisah tentang seorang Walikota yang mengetuk pintu kamar hotel di Arab Saudi akan selalu hidup menjadi bukti bahwa kepemimpinan sejati tidak diukur dari tingginya kursi jabatan, melainkan dari seberapa rendah ia mau membungkuk untuk melayani rakyatnya. (**)

error: Content is protected !!