Jakarta, InfoPublik – Kilau lampu kristal di Grand Ballroom The Ritz-Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, Jumat malam (24/4/26), seolah menjadi saksi bisu sebuah momen kebanggaan bagi warga Bumi Merah Putih.

Di tengah deretan tokoh penting dan setelan batik nasional yang mendominasi ajang National Governance Awards 2026, sosok Dedy Wahyudi mencuri perhatian dengan cara yang berbeda.

Langkah kaki Walikota Bengkulu itu mantap saat namanya dipanggil menuju panggung kehormatan. Namun, bukan sekadar penghargaan yang membuat mata hadirin tertuju padanya, melainkan balutan busana yang ia kenakan.

Malam itu, Dedy tampil percaya diri dengan Batik Besurek khas Bengkulu. Motif kaligrafi yang apik tampak mencolok di bawah sorot lampu panggung.

Namun, yang benar-benar menjadi “bintang” dari penampilannya adalah Kbek Palak, ikat kepala tradisional dengan motif senada yang melingkar rapi di kepalanya.

Keputusan Dedy untuk mengenakan atribut lengkap ini bukanlah tanpa alasan. Di balik kemegahan hotel bintang lima tersebut, ia ingin membawa pesan kuat tentang identitas.

“Ini adalah jati diri kita. Saya ingin dunia tahu bahwa Bengkulu punya seni budaya yang luar biasa. Batik Besurek dan Kbek Palak bukan sekadar pakaian, tapi marwah masyarakat Bengkulu/Kota Bengkulu,” ujar Dedy dengan senyum mengembang usai menerima penghargaan.

Penggunaan Kbek Palak di ajang bergengsi tingkat nasional ini menjadi sebuah pernyataan simbolis. Dedy berhasil mengubah panggung seremoni menjadi ajang diplomasi budaya. Ia membuktikan bahwa identitas lokal tak pernah kehilangan kelasnya, bahkan saat bersanding dengan kemewahan metropolitan.

Malam itu, Dedy Wahyudi tidak hanya pulang membawa trofi apresiasi atas kinerjanya di pemerintahan. Lebih dari itu, ia pulang dengan kebanggaan karena telah berhasil “mengenalkan” kembali akar budaya Bengkulu ke panggung nasional.

Sebuah cara elegan untuk mengingatkan bahwa setinggi apa pun prestasi diraih, kaki harus tetap berpijak pada kekayaan tradisi sendiri. (**)

error: Content is protected !!