Singapura, InfoPublik – Pendidikan di Singapura terkenal dengan sistem yang sangat kompetitif, didasari oleh prinsip meritokrasi, dan menetapkan standar tinggi yang diakui secara global.
Sistem ini menekankan pada pencapaian akademik, penguasaan dwibahasa, bahasa Inggris dan bahasa ibu (Melayu, Mandarin, atau Tamil) dan kurikulum komprehensif yang dirancang untuk membekali siswa dengan pengetahuan teoretis dan praktis.
Meskipun sebelumnya dikenal kaku, sistem ini terus bereformasi untuk menawarkan fleksibilitas yang lebih besar bagi para pelajar, dengan orientasi kuat pada penerapan pengetahuan dalam kehidupan nyata dan pengembangan karakter.
Struktur pendidikan di Singapura terbagi dalam beberapa jenjang. Pendidikan dasar dan menengah berlangsung selama 10 tahun. Pada akhir pendidikan dasar, siswa menghadapi Ujian Kelulusan Sekolah Dasar (PSLE) yang menentukan jalur pendidikan menengah mereka.
Di jenjang menengah, terdapat jalur yang beragam, termasuk Express dan Normal Academic yang mempersiapkan siswa untuk ujian GCE O-Level, serta Normal Technical yang lebih berfokus pada kurikulum berbasis praktik.
Setelah menamatkan pendidikan menengah, siswa memiliki beberapa opsi pendidikan lanjutan. Junior College menyediakan program intensif selama dua tahun bagi siswa berprestasi yang berencana melanjutkan ke universitas.
Alternatif lainnya adalah Politeknik, yang menawarkan program diploma tiga tahun berorientasi industri, dengan penerimaan berdasarkan hasil ujian seperti GCE O-Level. Selain itu, terdapat juga institusi spesialis untuk bidang seni atau olahraga.
Metode pembelajaran di Singapura sangat terstruktur.
Kurikulumnya, yang berfokus pada matematika, sains, dan penguasaan dwibahasa, juga menekankan inovasi, kewirausahaan, dan kemampuan menerapkan pengetahuan secara praktis. Selain aspek kognitif, pengembangan karakter, seperti integritas, tanggung jawab, dan rasa hormat, juga menjadi bagian integral dari kurikulum.
Keunggulan sistem pendidikan Singapura mencakup standar akademik yang konsisten dan diakui secara global, kurikulum yang inovatif, serta tenaga pengajar profesional dan fasilitas yang memadai. Namun, sifat kompetitif yang intens sering kali menimbulkan tantangan berupa tingkat stres dan kecemasan yang tinggi di kalangan siswa.
Peran orang tua sangat vital dalam ekosistem pendidikan ini. Mereka terlibat aktif melalui sesi “Meet-the-Parent” dan ada komitmen kolektif dari seluruh lapisan masyarakat untuk mendukung kesuksesan generasi muda Singapura.
Berkenaan hal ini, Pemerintah Kota Bengkulu berencana mengalokasikan anggaran untuk memajukan sektor pendidikan, dengan mengambil inspirasi dari keberhasilan Singapura yang menjadikan pendidikan sebagai penentu kemajuan bangsa.
Salah satunya adalah penguatan kemampuan bahasa asing sejak dini.
Dalam arahannya, Dedy menekankan pentingnya mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan global.
“Kita rencanakan, SD kita siapkan bahasa Inggris dan kedua bahasa Cina ke depan membayangkan anak-anak Bengkulu masa mendatang peningkatan kualitas pendidikan anak,” ujarnya, Selasa (18/11).
Selain pengenalan bahasa asing, pemerintah akan mengadopsi beberapa aspek kunci dari sistem pendidikan Singapura terutama yang berfokus pada kualitas guru, kurikulum yang berorientasi pada keterampilan praktis, dan penerapan meritokrasi.
Dengan melakukan aspek-aspek ini secara bertahap dan terencana dapat membantu Kota Bengkulu meningkatkan mutu pendidikan dan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Kemudian, Dinas Pendidikan juga diminta untuk melanjutkan program evaluasi yang sudah berjalan.
Dedy meminta Dinas Pendidikan melanjutkan program Ujian Tobo Kito (UTK) bagi para siswa/i tingkat SD dan SMP, untuk menggali potensi yang mereka miliki dan mengevaluasi setiap pembelajaran yang diberikan.
“Ini menunjukkan komitmen terhadap evaluasi berkelanjutan untuk memastikan efektivitas metode pengajaran yang diterapkan. Program ini diharapkan dapat memetakan potensi siswa secara lebih mendalam,” jelasnya. (**)
